Minggu, 29 November 2015

Kepuasan Dalam Pernikahan

Pernikahan adalah sebuah jalinan dan pertemuan dua keluarga yang berbeda dan bersatu untuk menjalin silaturahmi yang dicontohkan dan dianjurkan dalam islam supaya kita bisa mendapatkan keturunan di dunia ini,nah ini lah ciri ciri tingkat kebahagian di dalam pernikahan
1-Kebahagiaan semalam: Yaitu Ketika Suami istri tenggelam dalam kasih sayang yang tidak bisa lagi ditahan, karena suatu cita-cita yaitu ingin memiliki keturunan.
2-Kebahagiaan seminggu: Yaitu masa bulan madu, dimana suami-istri disibukan dengan penyatuan Hati, penyatuan tujuan, penyatuan cita-cita untuk masa depan.
3-Kebahagiaan Sebulan: Yaitu masa penyatuan antara dua keluarga setelah pernikahan, yang mana, suami istri akan memiliki dan bertambah kerabat dan saudara.
4-Kebahagiaan Setahun: Yaitu dimana keluarga melahirkan keturunan, yang membahagiakan hati dan harapan keluarga dimasa depan.
5-Kebahagiaan Seumur hidup: Yaitu dimana keluarga saling menyemangati dan mencintai dalam keta'atan Ibadah, dan tujuan Akhirat, dan saling menyayangi dan saling menasehati bila ada anggota keluarganya terjerumus dalam kema'siatan, dan saling mendoakan agar anggota keuarganya diselamatkan dunia akhirat, dan ingin berkumpul kembali kelak di Surga.
Ya Allah, Berilah kami dan keluarga kami berkah kebahagiaan didunia dan diakhirat, serta kumpulkanlah kami bersama keluarga dan anak cucu keturunan kami kelak di Surga-Mu.. Dan karuniakan saudara-saudara kami (yg belum mendapatkan jodoh) pasangan terbaik dunia dan akhirat yang Engkau pilih dan Engkau ridhai.
Aamiin

Istri Gag Pengertian

Istri Ga Pengertian.
Sugeng berniat menceraikan istrinya, dia menghadapi sidang pengadilan perceraian.
Hakim : "Jadi Saudara tetap bersikeras ingin menceraikan istri Saudara?"...
Sugeng : "Benar Pak, Serius!!!" Hakim : "Anda tidak menyesal..?"
Sugeng : "Bagaimana mungkin saya menyesal Pak, buat apa saya punya istri ýğ setiap malam keluyuran dĩ Cafe, Bar dan Diskotik"
Hakim : "Apakah istri saudara suka mabuk²an?"
Sugeng : "E..e..ehmmm... tidak..... Tidak juga pak"
Hakim : "Istri anda senang berdansa, ON dan dugem?"
Sugeng : "Ee...ehmmm.. Tidak juga Pakkk..."
Hakim : "Jadi apa yg dilakukan istri anda setiap malam di Cafe, Bar dan Diskotik?"
Sugeng : "Dia mencari-cari saya, Pak.."
Hakim : *ngunyah palu*

SEJARAH HIDUP IMAM ABU HANIFAH

   Dengan nama asli  Abu Hanifah An-Nu'man Bin Tsabit Bin Zauthi At-taimi Al-Kufi beliau adalah  imam yang utama,pakar fikih islam,ulama irak,guru besar Madrasah Ar-Ra'yi (aliran rasionalis), samudera ilmu,beliau bukan orang arab asli,melaikan keturunan orang persia yang merupakan mantan hamba sahaya Bani Taimullah bin Tsa'labah.
   Abu Hanifah dilahirkan pada tahun 80 H di KUFAH,ketika para sahabat junior Rasulullah Shalalallahu Alaihi wa Sallam masih hidup.Meski demikian,abu hanifah tidak pernah meriwayatkan satu pun hadits-meskipun satu huruf-dari mereka.
   Abu hanifah menuntut ilmu sejak kecil beliau rutin mengikuti halaqoh (pengajian) Hammad Bin Abi Sulaiman selama 18 tahun.Ia pernah bersumpah tidak akan meninggalkan Hmmad sampai dipisahkan maut,atau bersumpah untuk menyerap seluruh ilmunya.
   Selain secara konsisten mengikuti Hammad bin Abi Sulaiman, Abu Hanifah juga senantiasa menghadiri majelis para ulama di zamannya.semisal:
1.Atha' bin Abi Rabah yang merupakan ulama dan cendikiawan Mekkah,
2.Asy-sya'bi yang merupakan ulama Irak,Abdurrahman bin Hurmuz yang merupakan ulama Madinah,
3.Nafi' yang merupakan pembantu Ibnu umar, Alqamah,Az-zuhri yang merupakan ahli hadits pada masanya,
4.Muhammad bin Al-Munkadir,Hisyam bin Urwah,dan masih banyak yang lainnya.
   Abu Hanifah tidak pernah merasa gengsi untuk mengambil periwayatan hadits atau menyerap atau menyerap ilmu dari yang lebih muda darinya.Konon,ia pernah meriwayatkan hadits dari Syaiban An-Nahwi yang berusia lebih muda darinya.Demikianlah sikap yang seharusnya dimiliki setiap pencari keilmuan dan peniti jalan manusia Rabbani.
   Tatkala Hammad bin Abi sulaiman wafat pada tahun 120 H, Imam Abu Hanifah kemudian menggantikan posisinya dalam halaqoh pengajaran di masjid Kuffa. Saat itu Abu Hanifah berusia sekitar 40 tahun dan telah mencapai kesempurnaan dalam hal keilmuan dan intelektualitas,maka, beliau menjadi seorang yang terdepan di usia yang matang (antara 30-45 tahun).