Kamis, 25 Februari 2016

Keuntungan Penjual Mobil Tahu boelat

Saat ini mungkin hampir disetiap kota di Indonesia (Terutama Jawa) mulai byk penjual yg menjajakan dagangannya pake mobil / motor roda 3 dg suara speaker yg khas.... Tahu bulat digoreng dadakan limaratusan... halooooow :v :v
Bahkan anakku yg baru 19bulan sampe apal banget kl ada mamang tahu langsung teriak kluar ngejar... wawuuuuuuu (baca Tahuuu) :v :v
Nah banyak juga yg nanya "apa masih ada untung dg hrg jual cuma Rp.500 ?? padahal dia jualan pake mobil otomatis kan ada biaya bensin.. dll
Nah siang tadi ane sharing dg seorang mastah yg jam terbangnya diatas rat2 untuk bisnis offline, sy byk belajar dr beliau terutama soal itung2an HPP dg system jual titip (konsinyasi).
Lanjuuuuut yaaaa....
Jadi begini dgn kualitas tahu Bulat itu paling biaya produksi skitar Rp 200. Artinya ada margin sekitar Rp.300 perbutir. Jika asumsi 1 orang beli 4 butir berarti ada margin kotor Rp.1.200 per orang. Target penjualan ke 500 orang. Jika 1 desa menjual 100 butir maka ada 5 desa yg hrs diputar.
Menghitung laba kotor :
1.200 x 500 = Rp.600.000 perhari
Jika hari kerja hanya 26 hari ada laba kotor perbulan Rp.15.600.000
Cost perbulan
1. Bensin Rp.100.000 x 26 = Rp.2.600.000
2. Perawatan mobil Rp.500.000
3. Oprasonal makan & minum Rp.1.300.000
4. Gaji karyawan Rp.1.000.000 x 2 = 2.000.000
Laba kotor Rp.9.200.000
Penyusutan alat 5%
Likuditas 10%
Ada laba bersih Rp.7.820.000
Jika dia punya 10 armada tinggal dikalikan saja
Yah begitulah kadang kita melihat sepele penjual tahu padahal kalo tau Nett Profitnya.... ckckckck

Senin, 22 Februari 2016

Po An Tui yang sebenarnya


Dalam peresmian Monumen Po An Tui di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Mendagri Tjahjo Kumolomengatakan bahwa tujuan didirikannya monumen Po An Tui adalah untuk mengingatkan siapa leluhur kita dan perjuangan laskar China dalam melawan penjajah VOC Belanda pada tahun 1740 – 1743.
Pernyataan Tjahjo Kumolo tersebut sepertinya adalah upaya sistematis dalam mengaburkan dan membelokan fakta sejarah sebenarnya.

Po An Tui adalah Milisi Cina Indonesia yang dibentuk dan dipersenjatai oleh penjajah Belanda, mereka membentuk satuan untuk setia kepada Belanda. Tugas mereka menjadi mata-mata, melakukan aksi teror, penculikan, pemerkosaan, penjarahan dan mengambil upeti dari petani-petani pribumi, memeras rakyat pribumi untuk diambil kekayaan dan disetorkan ke Belanda, bahkan mereka akan membunuh kalau ada pribumi yang menentang.

Po An Tui juga bersekutu dengan Westerling, pembantai umat Islam Makassar. 50 ribu ummat Islam Makassar dibantai Westerling. Saat Westerling telah membantai Ummat Islam di Makassar, lalu dia lari ke Jakarta dan Jawa Barat dan ia dikejar oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Po An Tui lah yang membantu meloloskan Westerling melalui Sanfur Ancol Jakarta Utara, dari sana Westerling diselundupkan dan dilarikan dengan pesawat kecil menuju Singapura.

Mudahnya Westerling kabur ke Singapura, karena ia memiliki hubungan istimewa dengan Milisi Po An Tui sebagaimana diceritakan Jenderal Besar (Purn) AH. Nasution dalam bukunya "Memenuhi Panggilan Tugas". Dimasa Perang Kemerdekaan laskar ini mendapat pasokan senjata dari Singapura.
Tidak sampai disitu, Po An Tui juga melakukan teror di Bandung Jawa Barat, melakukan penculikan dan pembunuhan. Di tahun 1945, begitu Bung Karno dan Bung Hatta mendeklarasikan Kemerdekaan Indonesia, Po An Tui di Sumatera Utara berontak. Po An Tui Medan angkat senjata tidak mau bergabung dengan NKRI. Di wilayah Balaraja Tangerang, Po An Tui juga berontak tidak mau bergabung dengan NKRI, akhirnya umat Islam marah, terjadi perang di Balaraja.

Jadi Milisi ini pengkhianat, dalam sejarah Po An Tui selalu berkhianat kepada NKRI. Di zaman penjajah Belanda mereka bersekutu dengan Belanda. Saat Belanda pergi dari Indonesia Po An Tui ikut Jepang, begitu Jepang hengkang dari Indonesia mereka ikut Partai Komunis Indonesia (PKI). Saat pemberontakan PKI mereka ikut PKI, mereka ikut membunuh para ulama, mereka bunuh kyai, dan mereka bunuh masyarakat pribumi.

Bahkan, Po An Tui memusuhi sesama etnis Tionghoa, jika ada orang Tionghoa masuk Islam mereka aniaya, jika ada orang Tionghoa yang cinta NKRI, anti penjajah Belanda, Jepang atau anti PKI maka akan dimusuhi mereka.

Bisa jadi diketemukannya simbol Komunis di arena skate board Keong Mas TMII (yang sampai sekarang belum terungkap pelakunya) pada tanggal 17 Agustus 2015, 3 bulan sebelum peresmian, mungkin saja ada hubungannya dengan rencana peresmian monumen tersebut.
Baru kali ini terjadi dan terjadi di era Jokowi, kelompok penjilat, pengkhianat bangsa dan pemberontak di muliakan dan dibuatkan monumen.

Waspadalah!!! jangan tertipu untuk ke dua kalinya bila kita ingin tetap menjadi pemilik sah Republik ini dan bila ingin anak cucu kita hidup damai dan sejahtera di Bumi Pertiwi sebagaimana cita-cita para leluhur dan Pahlawan Bangsa dalam merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

Minggu, 21 Februari 2016

Stylis Yang Hakiki dan Bijak

AKU asyik dengan HP ketika sahabatku sibuk memilih baju yang ingin dibelinya. Selesai membayar 2 set gamis dia menepuk pundakku.
“Enggak tertarik? Cakep-cakep gini, murah lagi,” katanya padaku dengan wajah keheranan.
“Enggak, aku gak biasa beli baju sendiri. Aku biasa dibeliin suamiku, dia sama anak-anak yang milih,” kataku cuek.
“Ih lucu, yang mau pakai kan kamu. Kenapa gak kamu yang pilih?” nada kemal alias kepo maksimalnya mulai muncul.
“Yang mau lihat kan suami sama anak-anak, kalau bukan untuk menyenangkan mata mereka, aku mau nyenengin mata siapa?” jawabku santai
Kami berjalan ke mobil, dan bergegas masuk lalu melanjutkan perjalanan.
“Loh kalau selera mereka gak sama denganmu? Laki-laki mana ngerti model,” katanya lagi

“Hehehe… aku gak rewel soal selera. Lihat sendiri, aku cuek dalam penampilan. Yang penting bersih, nyaman dan aurat tertutup sesuai syariat. Suami dan anakku yan pilihkan, mereka kurang nyaman kalau aku agak “tampil” makanya model – model bajuku kebanyakan ya klasik yang tak lekang dimakan masa hihihi…model konvensional. Kalau udah model macem-macem, masanya lewat ya make baju itu kayak kudet. Tapi kalau yang klasik ya sepanjang masa ya oke aja,” kataku lagi.
“Ah jangan-jangan suamimu pelit, begitu tuh sengaja biar irit. Masa kamu gak ada kepinginan model – model baju sekarang kan lucu, modis. Lihat tuh ibu-ibu nganter anak sekolah atau kumpulan pengajian aja udah kayak fashion show, modelnya macam-macam,” timpalnya lagi.
“Pelit? Enggak kalau menurutku sih. Soal kenyamanan aja, lagian suami sama anak-anak gak suka yang model macam-macam, kayak payet ataupun renda-renda. Pokoknya yang nyaman dan sederhana,” jawabku.
“Kalau ke undangan?” Tanyanya lagi.
“Ya biasa aja juga. Gak ada yang spesial,” jawabku.
“Eh, tapi kalau undangan kan paling enggak musti “gaya dikit”, penampilan kita kan bakal diperhatiin orang, lagian kalau keundangan biasa-biasa aja kayak gak menghargai yang ngundang,” celotehnya.
“Itu undangan manusia, jadi biasa aja. Tampil sederhana kan bukan berarti gak menghargai. Kalaupun ada dress code ya yang penting menuhin ketentuan aja, soal model gak penting. Mempersiapkan undangan Allah baru istimewa, dress code nya 2 . Undangan pertama kalau dapet undangan panggilan ke Baitullah pake dress code Ihram, itu udah lewat tuh,Nah tinggal nunggu undangan akhir pakai dress code pocong kafan. Daripada sibuk sama model pakaian, mending kita sibuk sama model amalan. Biasanya kalau belanja pakai syahwat, giliran diajak sedekah udah kaya orang paling melarat.”
“Ih..gitu ih ngomongnya, aku kalau beli baju satu aku keluarin baju satu dari lemari buat sedekah. Beli dua juga aku keluarin dua buat sedekah. Kan sama aja sedekah, lagian aku perhatiin kamu tuh emang pelit, sadar enggak kamu tuh orang yang paling jarang belanja dibanding temen-temen lain, ditawarin jualan apapun selalu pake jurus ajian geleng sambil nyengir,” nadanya mulai BeTe
“Eh… yang larang beli baju siapa?” Kataku tertawa.
“Kok jadi sensi. Ya nafsi-nafsi aja. Itu kan aku jelasin life style ku, kan kamu ngepoin aku. Giliran dijawab malah sensi. Kalau aku udah dari dulu gak terlalu ngikutin selera. Semua pengeluaran base on priority aja. Skalanya kebutuhan bukan kenikmatan. Khawatir nikmat di dunia giliran hisabnya nanti gak bisa dipertanggung jawabkan. Ngumpul koleksi barang ini itu jadi pajangan, nanti di yaumil hisab semua dipertanggung jawabkan. Kadang manusiawi juga kan ada aja keinginan, tapi kadang mikir, ah beli baju cuma sekian, beli tas cuma sekian bisa dicicil, aneka perabot dapur dicicil cuma sekian, dihitung-hitung total lumayan juga posnya. Kalau hidup berdasar selera gak selesai-selesai keingingan kita, padahal kalau kita alokasikan cicilan-cicilan itu, atau belanja ini itu bisa buat tabungan umroh atau haji gak kerasa ya ngumpul juga,” kataku coba menjelaskan.
“Iya juga ya… Padahal segala baju, asessoris, perabot banyak di rumah, dipakai belum cuma jadi pajangan. Gilirann lihat orang berangkat umroh atau haji, sedih selalu ngerasa gak mampu finansial. Padahal kalau emang diniatin barang-barang yang bikin sesak rumah itu nilainya bisa cukup buat tabungan,” katanya setengah bergumam.
“Nah… itu juga pikiranku dulu. Jadi akhirnya aku mendidik diriku sendiri. Yang namanya perempuan ya ada aja hasratnya pingin punya ini itu, tapi setiap aku ingin sesuatu pasti aku gak akan beli. Suamiku sampai hafal kalau aku pingin sesuatu bulak balik aku pegang, maka bisa dipastikan gak bakalan dibeli. Tapi dia gak tau tuh kalau aku buka tabungan sendiri. Setiap aku pengen sesuatu, aku transfer uang sejumlah harga barang itu ke rekening khusus ngumpulin buat haji. Lama-lama aku kebiasa buat gak terlalu nurutin keinginanku sendiri, alhamdulillah ternyata gak lama ngumpulinnya dan lucunya apa-apa yang aku inginkan itu tetap jadi milikku tanpa perjuangan, ada aja yang ngasih hadiah atau dapet gratisan dari mana-mana. Jadi kalau aku biasain belanja tuh kebutuhan hidup aja, kalau gaya hidup gak usah diturut. Jadi bukan pelit ya… catet…” kataku sambil tertawa
“Iyaa… iyaa… musti belajar memilah kebutuhan hidup sama gaya hidup ya, kalau enggak bisa gak kelar-kelar urusan mata. Belajar qonaah juga yaa..tapiii ya ampuuun kebayang susahnya,” katanya sambil tertawa.
“Yah… belajarlah, semua kan berproses,” kataku menyemangati
Kamipun tertawa dan asik berceloteh berbagai bahasan.
“Kebanyakan kita sibuk memenuhi gaya hidup, bukan kebutuhan hidup. Padahal kita malah lebih sering disibukan karena pemenuhan gaya hidup bukan kebutuhan hidup, hingga tidak jarang kita tergelincir pada rasa kufur dan lupa bersyukur. Selalu merasa kurang padahal rejeki setiap nyawa sudah ada jaminannya dari Allah, jika kita merasa kurang mungkin ada baiknya intropeksi lagi bisa jadi ada yang kurang pas dalam mengelola rejeki kita.”