Rabu, 02 Desember 2015

Gaji 4jt/bulan Bisa Beli Rumah dan Mobil

Kisah ini diceritakan Jerry Yulanto. Pria keturunan Tegal dan Manado ini ingin menggugah orang untuk senantiasa bersyukur atas apa yang didapatnya. "Ya intinya bersyukur. Melihat ke bawah. Jangan selalunya melihat ke atas. Nggak akan pernah cukup," ujar Jerry mengawali obrolannya
Dan kisah Jerry ini bisa menginspirasi siapa saja akan pentingnya kerja keras, cermat, tahu mana kebutuhan dan keinginan agar gaji atau pendapatan yang diterima tidak selalunya dirasa kurang. "Gaji saya di tempat kerja sekarang yang segitu-gitu aja. Tapi saya tahu mana kebutuhan dan keinginan," ujar karyawan properti dengan jabatan supervisor di wilayah Cikarang ini.
Jerry bercerita bahwa awal kehidupannya hingga sampai titik sekarang dilalui dengan banyak rintangan. Suami Novi Arliany ini mengaku pernah bekerja serabutan hingga sopir mobil rental. Dirinya baru mulai mendapat pekerjaan yang layak pada tahun 2010. Diterima di perusahaan yang bergerak di bidang properti di Cikarang sebagai senior staf pengelola atau estate managemen. Kala itu Jerry masih seorang bujangan.
Setahun kemudian pada 2011, setelah mendapat pekerjaan yang dianggapnya layak, Jerry mempersunting Novi, teman sekantornya. Keduanya kemudian mengontrak rumah cluster di kawasan tempat keduanya bekerja, sehingga bisa menghemat ongkos perjalanan dari rumah ke tempat kerjanya.
"Gaji saya saat itu Rp 2,7 juta dan gaji istri Rp 2 juta/bulan. Awal menikah jangankan punya rumah, motor saja nggak punya. Karenannya untuk menunjang kegiatan sehari-hari pakai mobil istri yang dia punya sejak sebelum kami menikah," kata Jerry
Sadar bukan berasal dari keluarga kaya, Mabas dan istri kompak mencari tambahan penghasilan di luar kantor. Mulai dari sewa-sewain atau jual rumah, ruko, kavling sampai gudang. Hasil dari bisnis tambahan tersebut Mabas kumpulkan sedikit demi sedikit, hingga mereka bisa membeli sebidang kavling/tanah seluas 153 meter persegi di cluster yang sama dengan rumah awal, seharga 130 juta. Mabas bermimpi ia dapat membangun rumah idaman untuk keluarganya sendiri dan anak-anaknya kelak. Kavling tanah yang dibeli Jerry.
Sadar bukan berasal dari keluarga kaya,Jerry dan istri kompak mencari tambahan penghasilan di luar kantor. Mulai dari sewa-sewain atau jual rumah, ruko, kavling sampai gudang. Hasil dari bisnis tambahan tersebut dikumpulkan sedikit demi sedikit, hingga mereka bisa membeli sebidang kavling/tanah seluas 153 meter persegi di cluster yang sama dengan rumah awal seharga Rp 130 juta. Jerry bermimpi dapat membangun rumah idaman untuk keluarganya sendiri dan anak-anaknya kelak.
Kavling tanah yang dibeli Mabas.
"Setelah 10 bulan menikah, Alhamdulillah istri saya hamil. Senangnya luar biasa dan hasrat untuk memiliki rumah pun semakin besar. Tapi dengan tabungan hasil dari kerjaan tambahan yang kami punya rasanya tidak akan cukup untuk membangun rumah diatas kavling kami, karena tabungan hanya sekitar Rp 100 juta. Ditambah lagi waktu itu dapat musibah rumah kontrakan kami kemasukan maling yang menimbulkan kerugian sekitar Rp 20 jutaan karena perhiasan istri digondol maling," lanjut Jerry dalam ceritanya.
Namun Jerry dan istri percaya dengan perkataan orang dahulu, selalu ada hikmah dibalik musibah. Hal itu pun benar dan terjadi pada mereka. Seminggu setelah kemalingan ada seorang ibu datang ke rumah mereka mencari kavling di cluster sekitar tempat tinggal mereka. Akhirnya kavling dijual seharga Rp 275 juta. Dengan kata lain ada keuntungan lebih dari 100% dari investasi 1 tahun.
"Dan pada saat yang bersamaan ada klien istri saya yang mau menjual rumahnya seharga Rp 425 juta di cluster lain tapi masih di perumahan yang sama. Dengan uang hasil jual kavling Rp 275 juta plus tabungan kami Rp 100 juta, masih kurang Rp 50 juta untuk bisa mendapatkan rumah tersebut. Setelah dinegosiasikan akhirnya dikasihlah rumah itu dengan harga Rp 400 juta. Masih ada kurang Rp 25 juta lagi entah dari mana, kami nekat membeli rumah itu, bismillah aja dah," tutur Jerry.
Jerry masih inget betul ia membayar rumah barunya itu dengan cara menyicil sampai 8 kali selama 5 bulan. Karena uang hasil penjualan kavlingnya juga dicicil oleh pembelinya. Dasar otak calo, rumah yang sedang dikontrak ternyata mau dijual juga sama pemiliknya seharga Rp 300 juta.
Akhirnya Jerry mencarikan pembeli dan menjualkan rumah yang dikontraknya seharga Rp 330 juta. Ia mendapat lagi keuntungan sekitar Rp 30 juta dari penjualan rumah yang sedang dikontraknya, sehingga lunaslah rumah yang Jerry dan istri beli seharga Rp 400 juta tadi.
"Alhamdulillah setelah anak saya lahir dengan sehat dan sempurna, tidak lama kemudian kami menempati rumah baru kami," ucapnya penuh rasa syukur.

Gadis Kecil hijab Penuh Inspirasi

Wafa adalah seorang gadis kecil berumur 7 tahun. Saat ini, dia bersekolah di Albany Rise Primary School, Melbourne, Australia. Seperti anak-anak seusianya, Wafa juga masih didominasi sifat kekanak-kanakan. Namun di balik itu semua, ada yang istimewa pada gadis kecil ini.
Dia satu-satunya murid di sekolahnya yang mengenakan jilbab. Padahal Wafa bersekolah di public school, bukan di sekolah Islami.
Gadis kecil ini tak pernah mau melepas jilbabnya meski saat ini tidak tinggal di Indonesia. Tak ada paksaan dari orang tuanya untuk mengenakan jilbab. Meski berada di lingkungan asing, dengan resiko akan ‘diasingkan’ oleh teman-temannya, dia tetap tidak peduli dan kokoh dengan pendiriannya.
Suatu hari, Australia sedang dilanda heatwave. Waktu itu suhu bisa mencapai 40 derajat celcius. Karena kasihan, guru Wafa memintanya untuk membuka jilbab agar tidak terlalu kepanasan. Namun dengan tenang Wafa menjawab, “Its okay, Miss. I’m alright,” Sang guru pun sampai menyampaikan kekaguman atas kegigihan Wafa.

”Well, because I’m muslim girl and all muslim girls are not allowed to show their hair to other people, besides their own family.”

Di kesempatan lain, Wafa ditanya oleh beberapa temannya. “Why do you wear that thing on your head?” Dengan percaya diri sebagai seorang muslim, dia menjawab, “Because I’m muslim,” Sang teman rupanya masih penasaran dan bertanya lagi, “But what you’re wearing that for?” Kembali dengan kepercayaan diri yang tinggi, Wafa menjawab,Well, because I’m muslim girl and all muslim girls are not allowed to show their hair to other people, besides their own family.”Bisa kita bayangkan betapa takjubnya teman-teman Wafa ketika mendengar jawaban ini.
Entah bagaimana caranya gadis kecil ini memiliki kepercayaan diri dan kebanggaan sebagai seorang muslim. Biasanya anak seusianya sangat takut dianggap berbeda dari teman-temannya. Akan tetapi tidak untuk Wafa. Dia sangat percaya diri dan bangga dengan identitasnya sebagai seorang muslim. Tempat yang asing bagi dirinya pun semakin menempanya untuk tetap bangga sebagai seorang muslim. Kegigihan Wafa ini rupanya juga diperhatikan oleh guru-gurunya. Dia pun terpilih sebagai student of the week di minggu pertama dia masuk ke sekolah tersebut.
Kisah tentang Wafa yang dikutip dari buku Character Building, karangan Yudha Kurniawan SP dan Ir Tri Puji Hindarsih tersebut sungguh menginspirasi kita bahwa identitas sebagai seorang muslim adalah suatu kebanggaan. Di negeri yang mayoritas non muslim, Wafa mampu menunjukkan kebanggan tersebut. Sungguh ironis jika di negeri yang mayoritas muslim ini, kita justru malu menunjukkan identitas diri kita sebagai seorang muslim. Wafa juga memberi pelajaran pada kita bahwa usia yang masih dini bukanlah halangan untuk menanamkan rasa bangga sebagai seorang muslim kepada anak. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Antara lain:
Pertama, kita bangkitkan kebanggaan menjadi muslim di dada mereka. Sejak awal, kita tumbuhkan kepercayaan diri yang kuat dan harga diri sebagai seorang muslim, sehingga mereka memiliki kebanggaan yang besar pada agamanya. Mereka berani menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim dengan penuh percaya diri. “Isyhadu bi anna muslimun. Saksikan bahwa aku adalah seorang muslim!”
Kedua, kita biasakan mereka untuk memperlihatkan identitas sebagai seorang muslim, baik yang bersifat fisik, mental, maupun cara berpikir. Inilah yang sekarang ini rasanya perlu kita gali lebih jauh dari khazanah Islam. Bukan untuk menemukan sesuatu yang baru, melainkan untuk menemukan apa yang sudah dilakukan generasi terdahulu yang berasal dari didikan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketiga, kita bangkitkan pada diri mereka al wala’ wal bara’ sehingga memperkuat percaya diri mereka. Apabila mereka berjalan, ajarkanlah mereka untuk tidak menepi dan menyingkir karena grogi berpapasan dengan orang non muslim. Kita tidak bersikap arogan. Kita hanya menunjukkan percaya diri kita sehingga tidak menyingkir karena gemetar.
Semoga kita senantiasa istiqamah dan bangga dengan identitas sebagai seorang muslim. Seperti halnya Wafa dalam kisah di atas. Kebanggaannya sebagai seorang muslim bak sebuah mahkota yang bukan saja meningkatkan derajat di antara kerumunan orang lain, melainkan juga memancarkan cahaya yang membuat potensi dan kemampuannya semakin terlihat.
Sumber: dawaktuna.com

Langsung Nikah aja ntar Pacarannya

Putus aja susah, gimana mau sukses ciptakan cinta penuh berkah??
"aku ingin nikah, tapi... Belum cukup umur"
Lho, kalau sudah tau belum cukup umur, untuk apa coba-coba pacaran?
"Aku butuh perhatian makannya aku pacaran."
Kalau mau dapet perhatian, tinggal cengir-cengir aja di tengah jalan. Gampang kan?
"Bukan itu, maksudnya.. kalau ada dia, tegangan belajarku jadi tinggi."
Emang tiang listrik apa? Pake tegangan segala. Yang ada belajar jadi gak konsen.
"Ia siih... tapi udah terlanjur sayang, orang tua juga udah restuin ko!."
Mau orang tua yang restuin, mau orang gila yang restuin, tetep aja, yang salah tidak bisa di benarkan.
"Oh gitu ya?Hehe. Okedeh aku akan lamar dia secepatnya.."
Kapan?
"Mungkin nanti 2045"
Waddduh???? *gubraaak* kelamaan.
"Hehe... kan kalau usia segitu saya udah pasti mapan :D"
Belum tentu, emang kita Tuhan.. tau mapan di usia sekian-sekian. Bisa jadi di usia segitu masih minta sama orang tua.
"Iya juga sih, jadi aku harus ngapain dong, jadi serba salah gini!"
Udah tau salah, masih aja....
"Kasih solusinya dong.!?!"
Putusin aja dia, beres kan?
"Tapi tanpa dia, aku gak bisa hidup"
Aduh, lebaynya tingkat RT. Peliiiis deeechhhh
semoga kita tetap istiqomah & tak melalaikan perintah. Aamiiin :)