Sabtu, 08 Oktober 2016

#MelawanLupa! KISAH PENGAWAL SOEKARNO

Foto : Maulwi Saelan (mengenakan baret) 
Sebelah kanan Presiden Sukarno dalam sebuah kunjungan kenegaraan ke Korea Utara.
Mengawal Presiden Sukarno sejak 1962. Pernah jadi kapten timnas Indonesia. Dipenjara Orde Baru tanpa proses pengadilan.
Maulwi Saelan (mengenakan baret) sebelah kanan Presiden Sukarno dalam sebuah kunjungan kenegaraan ke Korea Utara.
MAULWI Saelan, 87 tahun, mantan wakil komandan Tjakrabirawa, pasukan penjaga Presiden Sukarno, masih ingat suatu hari di tahun 1966. Sambil membawa secarik surat dia menghadap Presiden Sukarno. “Saya lapor pada bapak kalau saya dipanggil untuk kembali ke korps.Itu pertemuan terakhir kalinya dengan Bung Karno,” kata Maulwi Saelan ditemui di Sekolah Syifa Budi, Kemang, Jakarta Selatan, Jum’at (21/06).
Waktu itu Maulwi berpangkat kolonel CPM. Ditarik dari penugasannya sebagai wakil komandan Tjakrabirawa. Selang beberapa lama setelah peristiwa G30S 1965, ring satu yang mengitari Presiden Sukarno mulai dipreteli. Limabelas menteri dalam Kabinet Dwikora ditangkap. Pengawalan terhadap Presiden Sukarno perlahan dikurangi dan kemudian ditiadakan sama sekali bersamaan pembubaran Tjakrabirawa.
“Fasilitas untuk presiden mulai dikurangi. Pengawalan hanya dilakukan oleh CPM seadanya. Presiden tidak boleh lagi menggunakan helikopter, hanya boleh menggunakan mobil,” kenang Maulwi.
Pascabubarnya Tjakrabirawa pada 1967, pengawalan Presiden Sukarno diserahkan kepada Pomad AD yang pro Soeharto. Sementara untuk keperluan pribadi Presiden, Detasemen Kawal Pribadi (DKP) yang dipimpin oleh Letkol. Polisi Mangil Martowidjojo, tetap bertugas seperti biasa. Detasemen itu sudah berdiri semenjak awal masa kepresidenan Sukarno.
Menurut Maulwi, para pengawal dari DKP itu mengalami tekanan batin yang sangat mendalam ketika mengawal Sukarno di pengujung kekuasaannya. Tak jarang anggota Pomad AD membentak anggota DKP hanya karena dianggap melayani presiden secara berlebihan kendati sekadar menjalankan kewajiban saja.
Pernah seorang anggota DKP mengawal Bung Karno ke Bogor dan membukakan pintu mobil setibanya di Istana Bogor. Seorang perwira Satgas Pomad langsung membentak dan melarang anggota DKP membukakan pintu mobil yang ditumpangi Presiden Sukarno. “Biar dia buka sendiri, kamu kultus!” kata Maulwi mengutip kesaksian seorang anggota DKP bernama Suwarto.
Perlahan Presiden Sukarno makin dikucilkan. Kendati sempat menghadiri berbagai acara di mana dia memberikan pidato, tak satu pun media yang menyiarkan pidatonya. Setelah Pidato Nawaksara 10 Januari 1967 ditolak MPRS, Sukarno resmi diberhentikan. Jadi tahanan rumah dan tinggal di Wisma Yaso sampai nyawa menjemputnya pada 21 Juni 1970.
Bagaimana nasib pengawal-pengawalnya? Pada 1967, Maulwi diinterogasi di markas Kopkamtib. Ditanyai seputar keterlibatan Presiden Sukarno dalam peristiwa G30S 1965. Maulwi sendiri yakin Sukarno tak mengetahui ihwal peristiwa penculikan dan pembunuhan jenderal Angkatan Darat itu.
“Waktu itu (1 Oktober 1965 – Red) begitu Bung Karno turun dari mobil di Slipi, di rumahnya Haryati (istri kelima Sukarno –Red) dia langsung bilang wah! Ik ben overrompeld (wah saya kaget). Mukanya kelihatan bingung,” kata Maulwi. “Saya yakin dia tidak tahu menahu kejadian itu.”
Pemeriksaan terhadap dirinya ternyata berujung pada pemenjaraan. Pada hari yang sama, setelah diinterogasi Kopkamtib, Maulwi tak pernah diizinkan pulang sampai lima tahun lebih kemudian. “Ya begitu saja, saya dipanggil, lantas nggak dikasih pulang sampai lima tahun lebih,” katanya.
Maulwi ditahan di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, Jakarta Pusat selama 4 tahun 8 bulan. Kemudian ditahan di Rumah Tahanan Nirbaya, Jakarta Timur selama setahun. Untuk membuat Maulwi tertekan, Kopkamtib sengaja Maulwi menempatkan Maulwi di sel isolasi. “Kalau hujan kehujanan, kalau panas kepanasan. Selama seminggu saya dibuat menderita. Kelaparan dan kehausan. Untung ada penjaga bekas anak buah yang berbaik hati memberikan saya pisang goreng,” kenang Maulwi.
Setelah lima tahun lebih dipenjara, Maulwi dipanggil ke kantor petugas militer. Dinyatakan bebas. “Ya sudah begitu saja. Ditahan dan dilepas seenaknya. Saya, Mursid (Mayjen. Mursid, mantan Dubes RI untuk Filipina –Red) dan beberapa kawan pengawal Bung Karno lainnya juga dibebaskan. Diantar pakai mobil pick up,” ujar mantan kapten Timnas Indonesia tahun 1950-an itu.
Tak terima perlakuan semena-mena, begitu dibebaskan Maulwi sambangi markas CPM. “Saya tekan mereka. Saya tanya sama mereka saya ini komunis bukan? Apa saya ini terlibat G30S nggak? Mereka bilang nggak. Kalau begitu kasih saya surat keterangan kalau saya tak terlibat,” tuturnya, memutar kembali ingatan ke masa lalu.
Kini Maulwi Saelan mengisi hari-harinya dalam bidang pendidikan dengan menjadi ketua Yayasan Syifa Budi, Kemang, Jakarta Selatan (sekolahnya lebih dikenal dengan Al-Azhar Kemang-Red). Lelaki yang diangkat jadi anak ke-13 oleh Buya Hamka itu kini tengah menyiapkan terbitnya sebuah biografi yang bakal diluncurkan Oktober tahun ini. “Sejarah harus diluruskan,” pungkasnya.

#MelawanLupa! KISAH PENGAWAL SOEKARNO

Foto : Maulwi Saelan (mengenakan baret) 
Sebelah kanan Presiden Sukarno dalam sebuah kunjungan kenegaraan ke Korea Utara.
Mengawal Presiden Sukarno sejak 1962. Pernah jadi kapten timnas Indonesia. Dipenjara Orde Baru tanpa proses pengadilan.
Maulwi Saelan (mengenakan baret) sebelah kanan Presiden Sukarno dalam sebuah kunjungan kenegaraan ke Korea Utara.
MAULWI Saelan, 87 tahun, mantan wakil komandan Tjakrabirawa, pasukan penjaga Presiden Sukarno, masih ingat suatu hari di tahun 1966. Sambil membawa secarik surat dia menghadap Presiden Sukarno. “Saya lapor pada bapak kalau saya dipanggil untuk kembali ke korps.Itu pertemuan terakhir kalinya dengan Bung Karno,” kata Maulwi Saelan ditemui di Sekolah Syifa Budi, Kemang, Jakarta Selatan, Jum’at (21/06).
Waktu itu Maulwi berpangkat kolonel CPM. Ditarik dari penugasannya sebagai wakil komandan Tjakrabirawa. Selang beberapa lama setelah peristiwa G30S 1965, ring satu yang mengitari Presiden Sukarno mulai dipreteli. Limabelas menteri dalam Kabinet Dwikora ditangkap. Pengawalan terhadap Presiden Sukarno perlahan dikurangi dan kemudian ditiadakan sama sekali bersamaan pembubaran Tjakrabirawa.
“Fasilitas untuk presiden mulai dikurangi. Pengawalan hanya dilakukan oleh CPM seadanya. Presiden tidak boleh lagi menggunakan helikopter, hanya boleh menggunakan mobil,” kenang Maulwi.
Pascabubarnya Tjakrabirawa pada 1967, pengawalan Presiden Sukarno diserahkan kepada Pomad AD yang pro Soeharto. Sementara untuk keperluan pribadi Presiden, Detasemen Kawal Pribadi (DKP) yang dipimpin oleh Letkol. Polisi Mangil Martowidjojo, tetap bertugas seperti biasa. Detasemen itu sudah berdiri semenjak awal masa kepresidenan Sukarno.
Menurut Maulwi, para pengawal dari DKP itu mengalami tekanan batin yang sangat mendalam ketika mengawal Sukarno di pengujung kekuasaannya. Tak jarang anggota Pomad AD membentak anggota DKP hanya karena dianggap melayani presiden secara berlebihan kendati sekadar menjalankan kewajiban saja.
Pernah seorang anggota DKP mengawal Bung Karno ke Bogor dan membukakan pintu mobil setibanya di Istana Bogor. Seorang perwira Satgas Pomad langsung membentak dan melarang anggota DKP membukakan pintu mobil yang ditumpangi Presiden Sukarno. “Biar dia buka sendiri, kamu kultus!” kata Maulwi mengutip kesaksian seorang anggota DKP bernama Suwarto.
Perlahan Presiden Sukarno makin dikucilkan. Kendati sempat menghadiri berbagai acara di mana dia memberikan pidato, tak satu pun media yang menyiarkan pidatonya. Setelah Pidato Nawaksara 10 Januari 1967 ditolak MPRS, Sukarno resmi diberhentikan. Jadi tahanan rumah dan tinggal di Wisma Yaso sampai nyawa menjemputnya pada 21 Juni 1970.
Bagaimana nasib pengawal-pengawalnya? Pada 1967, Maulwi diinterogasi di markas Kopkamtib. Ditanyai seputar keterlibatan Presiden Sukarno dalam peristiwa G30S 1965. Maulwi sendiri yakin Sukarno tak mengetahui ihwal peristiwa penculikan dan pembunuhan jenderal Angkatan Darat itu.
“Waktu itu (1 Oktober 1965 – Red) begitu Bung Karno turun dari mobil di Slipi, di rumahnya Haryati (istri kelima Sukarno –Red) dia langsung bilang wah! Ik ben overrompeld (wah saya kaget). Mukanya kelihatan bingung,” kata Maulwi. “Saya yakin dia tidak tahu menahu kejadian itu.”
Pemeriksaan terhadap dirinya ternyata berujung pada pemenjaraan. Pada hari yang sama, setelah diinterogasi Kopkamtib, Maulwi tak pernah diizinkan pulang sampai lima tahun lebih kemudian. “Ya begitu saja, saya dipanggil, lantas nggak dikasih pulang sampai lima tahun lebih,” katanya.
Maulwi ditahan di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, Jakarta Pusat selama 4 tahun 8 bulan. Kemudian ditahan di Rumah Tahanan Nirbaya, Jakarta Timur selama setahun. Untuk membuat Maulwi tertekan, Kopkamtib sengaja Maulwi menempatkan Maulwi di sel isolasi. “Kalau hujan kehujanan, kalau panas kepanasan. Selama seminggu saya dibuat menderita. Kelaparan dan kehausan. Untung ada penjaga bekas anak buah yang berbaik hati memberikan saya pisang goreng,” kenang Maulwi.
Setelah lima tahun lebih dipenjara, Maulwi dipanggil ke kantor petugas militer. Dinyatakan bebas. “Ya sudah begitu saja. Ditahan dan dilepas seenaknya. Saya, Mursid (Mayjen. Mursid, mantan Dubes RI untuk Filipina –Red) dan beberapa kawan pengawal Bung Karno lainnya juga dibebaskan. Diantar pakai mobil pick up,” ujar mantan kapten Timnas Indonesia tahun 1950-an itu.
Tak terima perlakuan semena-mena, begitu dibebaskan Maulwi sambangi markas CPM. “Saya tekan mereka. Saya tanya sama mereka saya ini komunis bukan? Apa saya ini terlibat G30S nggak? Mereka bilang nggak. Kalau begitu kasih saya surat keterangan kalau saya tak terlibat,” tuturnya, memutar kembali ingatan ke masa lalu.
Kini Maulwi Saelan mengisi hari-harinya dalam bidang pendidikan dengan menjadi ketua Yayasan Syifa Budi, Kemang, Jakarta Selatan (sekolahnya lebih dikenal dengan Al-Azhar Kemang-Red). Lelaki yang diangkat jadi anak ke-13 oleh Buya Hamka itu kini tengah menyiapkan terbitnya sebuah biografi yang bakal diluncurkan Oktober tahun ini. “Sejarah harus diluruskan,” pungkasnya.

SALAH BESAR ANGGAPAN LAHIRAN CESAR LEBIH ENAK DIBANDINGKAN NORMAL

Kata siapa melahirkan secara Secar (SC) itu lebih enak ketimbang lahiran secara normal ? kata siapa Ibu yang melahirkan secar itu belumlah menjadi Ibu yang sempurna seperti Ibu yang melahirkan normal? kata siapa Ibu yang lahiran SC itu manja dan takut sakit ? kata-kata itulah yang seringkali muncul dari mulut orang yang sama sekali tidak tahu sakit dan beratnya melahirkan secara Secar.

Sejatinya tidak ada Ibu manapun di dunia ini yg menginginkan melahirkan secara Secar walau saat ini beberapa kasus Ibu lahir secar memang direncanakan karena alasan-alasan tertentu di luar Indikasi medis. Tapi saya yakin secar non indikasi semcam itu jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan Indikasi secar dilakukan karena mempertimpangkan keselamatan Ibu dan janin.

Berikut ini adalah beberapa Indikasi yang menyebabkan seorang Ibu harus menjalani operasi Secar:
- Ukuran bayi besar, sementara panggul ibu kecil.
- Bayi menderita kelainan misalnya spina bifida.
- Posisi kepala janin tidak berada di bawah / sungsang.
- Ibu menderita penyakit jantung
- Plasenta previa / plasenta menutup jalan lahir
- Ibu terinfeksi virus HIV.
- Infeksi herpes genital yang aktif
- Komplikasi Pre-Eklampsia / kejang kehamilan
- kegagalan persalinan dengan induksi
- kegagalan persalinan dengan alat bantu (forcep atau vakum)

Banyak sekali indikasi yang menyebabkan seorang Ibu akhirnya harus menjalani secar, jadi bukan semata-mata karena Sang Ibu ingin "enak" tanpa merasakan sakitnya bersalin tapi lebih karena pertimbangan keselamatan Ibu dan Janin dan kebanyakan Ibu yang harus menjalani secar justru malah melewati masa-masa berat dan menyakitkan yang melebihi seorang Ibu yang melahirkan normal akibat-akibat Indikasi diatas.

Bayangkan saja perjuangan seorang Ibu yang mengalami gagal persalinan setelah sebelumnya di Induksi. Padahal sang Ibu sudah merasakan kontraksi yang hebat dan berharap bisa lahir normal tapi apa daya tidak ada kemajuan dan akhirnya harus menjalani oeprasi secar, itu berarti Sang Ibu mendapat kesakitan ganda. Kesakitan saat berusaha lahiran normal dan kesakitan karena luka operasi yang harus dirasakan setelahnya.

Belum lagi untuk indikasi Plasenta previa atau placenta yang menutupi jalan lahir. Seorang ibu dengan Placenta previa selama kehamilannya dapat mengalami perdarahan yang lebih sering, apa lagi yang placentanya total menutupi jalan lahir. Dikala itu Sang Ibu harus benar-benar berhati-hati dan bahkan ada yang harus beberapa bulan bed rest total supaya tidak terjadi perdarahan hebat yang bisa membahayakan janinnya. Sementara Ibu dengan palcenta normal dapat bebas kemana sana dan ngaain aja tanpa kuatir perdarahan.

Sekarang ke indikasi komplikasi pre-eklampasia, seorang Ibu dengan tanda-tanda preeklampsia seperti tekanan darah tinggi sangat berisiko jika harus menjalani proses persalinan normal karena rawan terjadinya kejang dan koma. Nah kondisi semcam ini dapat meningkatkan resiko kematian tak hanya janin tapi juga Ibu. Dahulu sebelum, kemajuan dunia kedokteran seperti sekarng, angka kematian Ibu dan janin dalam kasus ini sangat tinggi.

Seorang Ibu yang melahirkan secar akan lebih lama dirawat di rumah sakit, berbeda dengan seseorang yang melahirkan normal yang setelah 1x24 jam sudah bisa langsung pulang dan beraktifitas seperti biasa. Hal ini sangat berbeda dengan seorang Ibu yang melahirkan secar dimana masih harus berjuang untuk menyembuhkan lukanya dan harus tetap menginap dirumah sakit selama 4-6 hari. Tidak hanya itu rasa nyerinya pun masih tetap terasa selama beberapa minggu setelah secar dan bahkn beberapa bulan dan tahun setelah secarnya. Jadi beruntunglah anda yg bisa menjalani persalinan normal dan tidak merasakan kesakitan yg dialami ibu yang lahir secara secar.

Biaya yang lebih besar harus ditanggung seseorang yang menjalani secar. Mereka yang tidak dijamin asuransi/BPJS otomatis akan membayar lebih mahal ketimbang mereka yang menjalani persalinan normal dan tentu hal semcam ini sebanrnya tidak diinginkan. Tapi demi melihat Sang ibu dan bayi dapat lahir normal kedunia calon orang tua rela menrogoh kocek lebih dalam untuk menjalani operasi secar karena indikasi-indikasi medis diatas. Jadi tak hanya lebih lama sembuh tapi oprasi secar juga membutuhkan biaya lbh mahal.

Itu hanya segelintir penjelasan kenapa melahirkan lewat secar juga nyata-nyata membutuhkan perjuangan besar yang tak kalah dengan proses perjuangan dalam melahirkan normal dan bahkan Ibu yang melahirkan secar lbh perlu ekstra kesabaran karena lebih banyak problem yang dihadapi selama proses kehamilan hingga menghantarkan kelahiran sang anak kedunia. Untuk itulah sudah sewajarnya kita selalu memberikan respect yang luar biasa besar bagi para Ibu, baik yang melahirkan normal dan secar karena mereka itulah sejatinya wanita yang rela bertaruh nyawa untuk melahirkan buah hati mereka ke dunia.

salam sehat
dr. Ryan Thamrin